Breaking News

Zonasi


Oleh Endro Yuwanto *)

Kata Zonasi dalam pekan-pekan ini sedang ramai diperbincangkan. Penyebabnya adalah penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 sistem zonasi godokan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang memunculkan beragam polemik karena sebagian besar siswa bisa masuk sekolah negeri berdasarkan 'meteran' jarak dari rumah ke sekolah dan bukan berdasarkan hasil ujian nasional (UN).

Tapi, tulisan ini tak hendak mengangkat soal PPDB sistem zonasi karena tentu sudah banyak yang berlomba-lomba membahasnya, seramai meme-meme yang beredar di media sosial. Memang, masih berkaitan dengan zonasi, namun zonasinya adalah seputar penyelenggaraan Copa America 2019 di Brasil yang pekan ini sudah memasuki babak perempat final. Partai final akan digelar pada 8 Juli nanti.

Sejatinya, Copa America adalah gelaran sepak bola terakbar negara-negara di zona CONMEBOL alias Amerika Selatan. Namun ada yang menarik pada penyelenggaraan tahun ini lantaran dua tim Asia, Qatar dan Jepang, turut serta. Kedua tim Asia ini sudah gugur di fase grup.

Copa America memang telah beberapa kali mengundang negara-negara non-Amerika Selatan untuk tampil di ajang ini. Australia bahkan sudah mendapat slot mendampingi Qatar untuk berpartisipasi pada Copa America 2020 yang akan berlangsung di Kolombia dan Argentina.

Tentu, keikutsertaan negara-negara di luar zona Amerika Selatan juga memunculkan polemik. Pelatih timnas Paraguay Eduardo Berizzo, misalnya, keberatan dengan kehadiran wakil-wakil Asia dalam turnamen Copa America 2019. Menurut dia, akan lebih masuk akal jika Copa America dimainkan oleh tim-tim dari seluruh Benua Amerika.

Pelatih timnas Meksiko, Gerardo Tata Martino juga melontarkan hal senada. Ia bahkan berharap cepat atau lambat turnamen Copa America diikuti seluruh negara di Benua Amerika. Meksiko saat ini juga tengah berlaga di Piala Emas CONCACAF yang bersamaan dengan berlangsungnya Copa America 2019. Piala Emas merupakan turnamen sepak bola dua tahunan di zona Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia.

Banyak yang masih bertanya mengapa Copa America sering melibatkan tim-tim di luar zona Amerika Selatan. Selama ini, rata-rata tim undangan yang tampil di Copa America adalah negara yang tergabung di CONCACAF atau Konfederasi Amerika Utara dan Tengah. Hal itu tidak mengherankan, mengingat jarak geografis yang dekat antara CONMEBOL dan CONCACAF.

Karena itu, Meksiko yang berasal dari CONCACAF tercatat sebagai negara undangan yang paling sering tampil di Copa America. Tercatat, tim yang identik dengan warna hijau itu 10 kali berlaga di Copa America, yakni pada 1993, 1995, 1997, 1999, 2001, 2004, 2007, 2011, 2015, dan 2016. Sayangnya, Meksiko tak bisa memperbaiki catatan di Copa America 2019 atau edisi yang ke-46. Sebab, tim asuhan Gerardo Martino itu tidak diundang CONMEBOL di gelaran Copa America 2019.

Selain Meksiko, negara di luar zona CONMEBOL yang pernah diundang ke Copa America adalah Kosta Rika (1997, 2001, 2004, 2011, dan 2016), Amerika Serikat (1997, 2001, 2004, 2011, dan 2016), Jepang (1999 dan 2019), Jamaika (2015 dan 2016), Honduras (2001), Panama (2016), Haiti (2016), dan Qatar (2019).

Ada alasan yang cukup logis mengapa penyelenggaraan Copa America selalu mengundang negara-negara di luar zona Amerika Selatan. Untuk menghelat Copa America, CONMEBOL membutuhkan 12 hingga 16 tim. Sementara, Federasi Sepak Bola Amerika Selatan itu hanya beranggotakan 10 negara, yakni Brasil, Bolivia, Peru, Venezuela, Argentina, Kolombia, Paraguay, Cile, Ekuador, dan Uruguay.

Sehingga, sudah menjadi tradisi CONMEBOL mengundang tim dari konfederasi lain dengan tujuan untuk menambah atau menggenapi jumlah peserta Copa America. Khusus edisi 2019 ini, pada awalnya CONMEBOL akan mengundang dua tim dari UEFA (Eropa), dua tim dari CONCACAF, dan masing-masing satu dari AFC (Asia), serta CAF (Afrika). Akan tetapi, UEFA, CONCACAF, dan CAF tak bisa memenuhi undangan dari CONMEBOL.

Spanyol dan Portugal yang disebut-sebut menjadi perwakilan dari UEFA, harus menjalani pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2020 dan juga UEFA Nations League. Di sisi lain, CONCACAF menggelar Piala Emas 2019, sedangkan CAF menghelat Piala Afrika 2019.

Alhasil, hanya AFC menjadi satu-satunya federasi sepak bola yang bisa mengirimkan wakilnya. Awalnya, akan ada enam tim AFC yang akan ikut serta di Copa America 2019. Akan tetapi, rencana tersebut dinilai tidak realistis. Walhasil, Qatar dan Jepang yang berstatus juara serta runner-up Piala Asia 2019, menjadi perwakilan dari Asia. Copa America 2019 pun hanya diikuti 12 tim peserta.

Entah lantaran 'tak murni' berisi tim-tim dari Benua Amerika, terlepas dari kompetisi Eropa yang memang maju dan modern, Copa America selalu kalah mentereng dibanding Piala Eropa (Euro). Padahal di Copa America selalu menampilkan tim-tim hebat semacam Argentina, Brasil, Uruguay, dan Cile. Tapi tetap saja gaungnya kalah dengan perhelatan Piala Eropa.

Lihat saja, laga antara Qatar dan Paraguay di Stadion Maracana, pada Ahad, 16 Juni lalu, hanya disaksikan 20 ribu penonton. Padahal, stadion memiliki kapasitas 87 ribu bangku. Atau duel antara Argentina versus Kolombia di Fonte Nova dua hari sebelumnya yang hanya ditonton langsung 35 ribu orang, padahal daya tampung stadion 50 ribu bangku.

Sebagai penikmat sepak bola tentu hanya bisa berharap suatu saat nanti penyelenggara di CONMEBOL dan CONCACAF bersatu dan memainkan Copa America hanya untuk negara-negara Benua Amerika, sesuai zonasi yang ada, bagaimana pun formatnya. Siapa tahu dengan zonasi yang lebih rapi gaung perhelatan Copa America tak kalah dengan Piala Eropa.

*) Dimuat di www.republika.co.id, Jumat 28 Juni 2019

Tidak ada komentar