Breaking News

Membeli Mimpi



Oleh Endro Yuwanto *)

Sudah banyak yang bilang kesuksesan berawal dari sebuah mimpi. Namun, barangkali ungkapan itu kurang tepat untuk melukiskan kondisi persepakbolaan di Indonesia.

Meski telah berpuluh-puluh tahun terlewati, Indonesia masih saja bermimpi memiliki tim nasional (timnas) sepak bola yang kuat dan disegani di level internasional dan sulit menggapai kesuksesan. Bagi sebagian kalangan pencinta sepak bola di Tanah Air, mimpi-mimpi berbicara di tingkat dunia itu seakan menjelma menjadi sebuah mimpi buruk yang terus saja berulang.

Kondisi ironis ini menimbulkan kegetiran tersendiri. Padahal, sejak lama Indonesia berkoar-koar sebagai negara Asia pertama yang menembus putaran final Piala Dunia. Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, Indonesia memang sempat tampil di Piala Dunia 1938 Prancis dengan menggunakan nama "Hindia Belanda".

Tapi, itu dulu. Sepak bola Indonesia tak akan pernah maju jika selalu mendasarkan diri pada kebanggaan masa lalu. Tentu kita sudah bosan mendengar cerita keberhasilan Ramang dan rekan-rekannya yang menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Atau kisah sedih saat kita tinggal selangkah lagi menuju Olimpiade Montreal Kanada 1976.

Sudah menjadi rahasia umum sepak bola adalah olahraga paling digandrungi sedunia, termasuk di Indonesia. Kompetisi sepak bola dalam negeri pun sudah berjalan bertahun-tahun dan jumlah pendukung olahraga ini terus bertambah. Ada masalah di sana-sini, terutama soal manajemen liga dan internal PSSI. Namun, semua itu tak pernah mengendurkan semangat olahraga ini untuk terus berkembang di Indonesia.

Buktinya, setiap laga timnas Indonesia, tribun-tribun penonton tak pernah sepi. Pun, ketika skuat Garuda-dan ini kerap terjadi-tak memiliki kesempatan menikmati kemenangan, pendukung timnas tetap setia mendukung tim kebanggaannya berlaga. Para pendukung itu seperti tak lelah bermimpi menanti kejayaan sepak bola negeri sendiri.

Mimpi-mimpi itu terus terpupuk saat era Ricky Yakobi dan rekan-rekannya memperkuat timnas. Tentu masih banyak yang mengingat saat Ricky dan rekan-rekan mampu menahan klub elite Belanda PSV Eindhoven, 3-3, dalam laga uji coba di Jakarta pada 14 Juni 1987 silam. Kala itu PSV diperkuat calon pemain bintang AC Milan, Ruud Gullit. Pada tahun yang sama, Indonesia mampu menjuarai Piala Kemerdekaan dengan menundukkan tim kuat Aljazair di final. Dan, kemudian berlanjut menjadi juara SEA Games 1987 dan SEA Games 1991. Setahun sebelumnya, skuat Garuda juga mampu menembus semifinal Asian Games X Seoul Korsel 1986. Indonesia pun hampir lolos ke putaran final Piala Dunia 1986 Meksiko. Nyaris ....

Akan tetapi, sejak itu, mimpi itu seolah enggan membumi. Kita harus kembali bermimpi, melayang-layang tak tentu arah, dan berangan-angan melihat timnas Indonesia disegani di dunia. Mimpi yang harus terus membuai kita hingga puluhan tahun. Mimpi-mimpi panjang yang melebihi tumbuh kembang seorang anak yang baru mengenyam pendidikan usia dini hingga ia memiliki anak dan istri. Kita pun terus saja bermimpi.

Mimpi-mimpi itu sempat menjelma menjadi asa agar terealisasi prestasi di era Kurniawan Dwi Yulianto dan rekan-rekannya yang menimba ilmu di Primavera Italia. Kurniawan dan beberapa rekannya juga menjadi pionir para pesepak bola Indonesia yang merumput di liga-liga Eropa. Namun, kehadiran Kurniawan tetap tak mampu menjadikan mimpi-mimpi pencinta sepak bola di Tanah Air yang ingin melihat prestasi tinggi timnas terealisasi.

Beberapa tahun berselang, Indonesia kembali mencoba merajut mimpi. Langkah "membeli" mimpi pun dilakukan dengan melakukan naturalisasi pemain. Puluhan pemain dari luar dinaturalisasi untuk membela skuat "Merah Putih". Hasilnya? Prestasi masih tetap sebatas mimpi.

Langkah "membeli" mimpi atau mungkin prestasi tahun ini pun dilakukan Indonesia dengan mendatangkan sejumlah tim top Eropa. Timnas Belanda, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea, menjadi jembatan asa penyambung mimpi. Setelah kalah 0-3 dari timnas Belanda, Indonesia bahkan menamai timnya dengan sebutan luar biasa, the Dream Team (tim impian) saat meladeni Arsenal dalam laga uji coba, 14 Juli 2013 lalu. Hasilnya, sebuah mimpi ... mimpi buruk! Indonesia dipermalukan 0-7 oleh Arsenal.

Memang, sudah banyak yang menebak Indonesia tak akan menang melawan tim-tim top Eropa itu. Apalagi, peringkat Indonesia pun bisa dibilang seperti negeri antah berantah lantaran masih berkutat di angka 168 hingga 170 FIFA. Namun, kekalahan dengan cara bermain yang jauh dari mengesankan dan terkesan menyebalkan tentu membuyarkan mimpi-mimpi kita selama ini yang ingin melihat skuat Merah Putih mendunia. Apalagi pada hari yang hampir bersamaan, negeri tetangga, Thailand, mampu tampil mengejutkan dan menekuk klub raksasa Eropa, Manchester United, 1-0.

Jika dirunut agak ke belakang, muara kegagalan timnas Indonesia selama ini sebenarnya bisa dikatakan akibat mutu atau kualitas klub dan kompetisi di Indonesia yang jauh dari standar. Entah apa pula yang terjadi dengan pembinaan sepak bola di Indonesia. Berbagai proyek pembinaan usia dini yang dirintis sejak bertahun-tahun silam belum juga membuahkan hasil memuaskan. Akibatnya, jangankan di level dunia dan Asia, di level Asia Tenggara pun Indonesia semakin tertatih-tatih.

Sering kali kita mendengar, jika bermimpi jangan tinggi-tinggi karena jika jatuh nanti akan sakit sekali. Sebenarnya, tak ada salahnya memiliki mimpi setinggi mungkin asal kita bisa mengubahnya menjadi sebuah impian dan punya komitmen yang kuat untuk menggapainya. Namun, untuk sepak bola Indonesia, sepertinya kita harus banyak-banyak bersabar dan terus bermimpi. Entah sampai kapan.

(dimuat di suplemen Republika REKOR, 20 Juli 2013)

Tidak ada komentar