Breaking News

Mie Instan dan Kepak Sayap Garuda


Oleh Endro Yuwanto

"Dulu, setiap nonton bola, papa selalu bangunin aku. Tak lupa selalu buatin aku mie instan ... lengkap dengan telor mata sapi, nonton bola jadi makin seru. Tapi, kini semua terasa berbeda sejak kepergian papa."

Itu adalah sepenggal kalimat di sebuah iklan televisi tentang seorang pemirsa sepak bola yang gemar menyantap mie instan. Tulisan ini bukan hendak menyinggung soal iklan, televisi, atau mie instan, melainkan tentang sepak bola yang terpampang di layar kaca itu.

Tapi, tak ada salahnya sebentar membahas soal mie instan. Mie instan memang enak rasanya. Sudah jamak di pelosok negeri ini, warga kelas bawah sampai kelas atas, orang awam hingga olahragawan, begitu gemar menyantap mie yang hanya butuh kurang dari lima menit untuk menyeduhnya itu.

Bukan hanya mie, banyak hal serba instan yang menjalar hingga sendi kehidupan warga di negeri ini. Seperti halnya mie instan yang menurut para ahli berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang. Kegemaran menyantap serba instan jelas juga membawa konsekuensi.

Sebut saja ambisi oknum pegawai negeri sipil, swasta, dan pejabat yang ingin lekas kaya raya sehingga menimbulkan budaya korup dan melahirkan ribuan koruptor. Tak peduli rakyat jelata sengsara dibuatnya. Budaya serba instan juga sudah merambah hingga akar rumput berupa suap, praktik percaloan, dan pungutan liar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat pengurusan KTP, SIM, tiket, atau memasukkan anak ke sekolah.

Sepak bola Indonesia agaknya juga sedang berupaya melahirkan prestasi secara instan. Ada harapan luar biasa besar ketika PSSI melakukan naturalisasi terhadap sejumlah pemain asing untuk membela timnas sepak bola Indonesia. Seakan pintu timnas Merah Putih untuk tampil perkasa di level internasional, bahkan di Piala Dunia, sudah terbuka.

Demikian pula saat kepengurusan PSSI yang baru di bawah pimpinan Djohar Arifin Husin dengan waktu sangat cepat, kurang dari dua pekan jelang kualifikasi Piala Dunia 2014, mendepak pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl dan menggantikannya dengan Wim Rijsbergen. PSSI mungkin berharap, reputasi Rijsbergen yang pernah membela Belanda saat menjadi runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978 bisa menular ke Indonesia.

Tapi, PSSI dan juga hampir sebagian masyarakat Indonesia seakan lupa atau memang pura-pura lupa. Cara-cara instan dalam segi kehidupan di mana pun, jarang memberikan hasil yang gemilang.

Seakan tak perlu menunggu jawaban terlalu panjang, hasil praktik instan itu sudah terpampang. Dua kali berlaga di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 Grup E Zona Asia, skuat Garuda dua kali kalah, salah satunya bahkan di kandang kebanggaan sendiri, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan. Takluk 0-3 dari tuan rumah Iran di laga perdana, Firman Utina dan rekan-rekan gagal memenuhi ekspektasi ketika tampil di kandang sendiri melawan Bahrain pada 6 September lalu.

Ketika kalah di Teheran, publik lebih bisa menerima kenyataan karena kelas Iran memang masih di atas Indonesia. Tapi, sewaktu tumbang dari Bahrain di Jakarta, baik Rijsbergen maupun para pemain terkena kritik habis-habisan. Mereka mempertontonkan sebuah permainan yang tak jelas dan pesimistis. Para pemain hanya melambungkan bola jauh ke depan, tanpa skema serangan yang jelas. Padahal, rata-rata pemain lawan memiliki tinggi yang lebih menjulang. Tentu tak akan ada gol atau bahkan peluang dari cara bermain instan seperti ini

Rijsbergen agaknya mulai menyadari tak bisa berharap dari tim 'instan' yang didapatnya dari skuat asuhan Riedl. Tapi, kala itu ia berkilah, tak memiliki banyak waktu untuk menentukan pemain sendiri saat ditunjuk menggantikan Riedl.

Saat menjalani ujian terbesar melawan Qatar dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2014 di SUGBK, Selasa (11/10) ini, pelatih asal Belanda ini mengaku telah menentukan pemainnya sendiri. Pemain muka baru seperti kiper I Made Wirawan, Wahyu Wijiastanto, dan Ferdinand Sinaga ternyata memang sanggup tampil memikat saat skuat Garuda menahan 0-0 Arab Saudi dalam laga uji coba, di Malaysia, Jumat (7/10) lalu. Rijsbergen pun tak akan mengandalkan pemain indisipliner semacam Boaz Solossa.

Tak dipungkiri, jika pemain Indonesia dijajarkan satu per satu dengan pemain dari negara kuat Asia, mungkin seperti lidi dan kawat besi. Fisik dan keterampilan mengolah si kulit bundar pemain Garuda  rata-rata masih di bawah mereka. Ini tentu "dosa" PSSI sejak zaman dulu yang tak pernah serius melakukan pembinaan pemain muda. Dengan kondisi seperti ini, lantas apa lagi yang bisa ditonjolkan selain kebersamaan yang sanggup menyalakan kobar semangat agar sayap Garuda tak mudah patah?

Sekarang, mestinya Rijsbergen dan anak-anak buahnya sudah jauh lebih saling mengenal. Komunikasi yang terjalin sepatutnya sudah lebih mengena satu sama lain. Dan, lalu menguatkan sikap profesional di masing-masing pihak sehingga semua potensi bisa tergali dan tersinergi secara optimal.

Kiprah Merah-Putih di Piala Asia 2007 bisa dijadikan contoh. Meski kalah teknik dari Arab Saudi, Bahrain, dan Korsel, Firman Utina dan rekan-rekan saat itu tampil kesetanan dan tak kenal lelah. Kelemahan skill dan fisik ditutupi dengan semangat juang tinggi.

Hasilnya, Arab dan Korsel susah payah memetik poin dari Indonesia. Boleh dibilang, gol penentu kemenangan Arab hanya keberuntungan. Bahrain saat itu bahkan takluk 1-2.  Atau jika menengok jauh ke belakang pada Piala Asia 2004, Indonesia yang tampil heroik juga mampu mempecundangi Qatar 2-1 lewat gol spektakuler Ponaryo Astaman dan Budi Sudarsono.

Tanpa bermaksud meremehkan, inilah kesempatan terakhir Indonesia memetik kemenangan di kandang sendiri atas Qatar dalam kualifikasi Piala Dunia. Rijsbergen dan para pemainlah yang akan menentukan nasib sekaligus masa depannya sendiri. Jika tampil serba instan berujung kekalahan, jangan heran jika hanya cela dan kritik yang akan dihujankan pada mereka.

(Harian Republika, 11 Oktober 2011)

Tidak ada komentar