Breaking News

Kami Ingin Matahari




Kami tak ingin mengambil bintang bintang itu, meski engkau menawarkan satu yang paling terang. Kami tak ingin bergerak menuju bintang, karena itu terlalu jauh dan tak berarti apa apa bagi kami. Kami terlalu mencintai matahari, bintang terdekat yang selalu menemani dan menyentuh kami sepanjang hari.

Dari pagi hingga petang, ia hadir mencerahkan jalan hidup kami. Ketika malam gulita, ia memantulkan bayangannya pada rembulan untuk menerangi langkah kami. Sedangkan, bintang gemintang, meski berjumlah jutaan bahkan mungkin miliaran, sinarnya terlalu kecil untuk menerangi kehidupan. Mereka juga terlalu jauh. Bahkan sangat jauh, hingga sulit untuk digapai.

‘’Ia akan jadi matahari, Nina,’’ ujarku lembut seraya membelai perut istriku yang sedang mengandung enam bulan.

‘’Ya Mas, ia akan menjadi anak laki laki yang kuat. Anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia akan menjelma seperti matahari,’’ sahut istriku sembari tersenyum mesra.

Sepanjang sebelas tahun pernikahan kami, mahligai kehidupan kami layaknya sebuah bahtera luas yang indah dan dipenuhi dengan berjuta keindahan. Kami mengayuh biduk dengan semangat cinta yang penuh dan dalam. Sungguh, seakan suatu bentuk kehidupan yang indah terpampang di hadapan kami. Aku dan istriku laksana kijang yang berlari larian di padang rumput hijau yang daun daunnya berkilauan, setelah dipulas cahaya matahari.

Namun kebahagiaan kami terasa belum lengkap lantaran si buah hati belum hadir di antara kami. Kondisi rahim istriku memang lemah sehingga sulit untuk memiliki anak, walaupun itu tak mustahil. Berbagai cara dan pengobatan telah kami lalui demi hadirnya si buah hati.

Tuhan selalu memberi jalan dan harapan bagi umatnya yang selalu berusaha dan berdoa. Tanpa disangka, setelah penantian panjang selama sebelas tahun, matahari akhirnya akan terbit dari rahim istriku. Penantian panjang yang akan menuju akhir beberapa bulan ke depan. Juga penantian terakhir untuk memiliki buah hati setelah sang dokter mengabarkan istriku tak memungkinkan untuk hamil lagi, karena itu berisiko tinggi bagi keselamatan jiwanya. Maka, lantaran kehadirannya yang semakin mencerahkan kehidupan kami, aku dan istriku sepakat akan memberi nama bayi itu dengan nama singkat, ‘Matahari’.

Namun dua pekan kemudian, kebahagiaan kami ternoda. Badai kejam krisis ekonomi tiba tiba mengguncang biduk kami. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini memaksaku melepas jabatan sebagai manajer di sebuah pabrik rokok di kota Kudus. Aku menjadi salah satu korban pengurangan tenaga kerja.

Tak hanya itu, rumah dinas yang kami huni selama ini, biduk indah tempat kami mengapung dalam kebahagiaan, terpaksa diambil alih oleh perusahaan. Kabut gelap seakan menyelimuti langkah kami.

Dengan uang pesangon seadanya, kami mencoba bertahan di Kudus. Tapi kota kecil itu seperti tak memberi harapan besar buat kami. Beberapa usaha yang kami jalani kandas di tengah jalan. Lantas, terngiang ucapan seorang kawan, ‘’Di negeri ini, peredaran uang hanya berpusat di ibukota.’’

Keputusasaan dan sebuah pengharapan tentang kehidupan yang lebih baik, akhirnya mengantar kami ke ibukota, ketika kandungan istriku sudah menginjak usia delapan bulan. Di Jakarta, kami mengontrak sebuah rumah petak nan mungil di Cipete, Jakarta Selatan.

***

Hari hari selalu kujalani untuk mencari lowongan pekerjaan yang layak sesuai dengan bidang dan ijazahku dari fakultas teknik, sebuah universitas negeri di Purwokerto. Tak semudah yang kubayangkan. Tak satu pun dari puluhan perusahaan yang kudatangi mengulurkan tangannya.

Di tengah kegalauan yang panjang lantaran beban hidup yang kian menghimpit, terbesit ide yang cukup menantang. Dengan sisa uang pesangan yang masih di genggaman, kudatangi sebuah dealer sepeda motor di Pondok Labu. Aku memberanikan diri mengkredit sebuah motor bekas. Motor kreditan itu akan kujadikan modal. Aku berniat menjadi tukang ojek di sekitar pasar yang tak jauh dari rumah kontrakan.

Setelah memperoleh motor itu, hampir saban hari, kujalankan mesin buatan Jepang itu dari satu tempat ke tempat yang lain. Hampir semua sudut sudut Jakarta Selatan pernah kutelusuri. Panas yang terik dan hujan yang deras adalah teman perjalananku.

Sedikit demi sedikit, aku mampu mengumpulkan uang untuk biaya persalinan anak pertama sekaligus anak terakhirku; anak tunggalku nanti, 'Matahari'. Mungkin lantaran terenyuh dengan kegigihanku mencari sesuap nasi, istriku juga berusaha membantu. Ia berjualan gorengan di depan rumah kontrakan kami. Sungguh, aku terharu melihat kesabaran, kesetiaan, dan ketulusannya.

Di pangkalan ojek, seorang rekan sesama pengojek selalu meresahkanku. Melihat pelanggan yang lebih sering menggunakan jasaku, ia selalu menyindir pedas, ‘’Kamu pakai guna-guna, ya?’’

Aku tersinggung mendengar ucapannya yang juga didengar rekan rekan pengojek lainnya. Aku balas menghardiknya, ‘’Sialan, kalau mau cari rejeki lebih banyak, cari pangkalan lainnya, sana!’’

Mungkin karena iri atau mungkin sakit hati, ia berujar lantang, ‘’Awas, lo. Istrimu sedang hamil tua!’’

Hari berganti hari, aku masih menggeber motorku untuk mencari dan mengantar para pemakai jasa ojek. Tak terasa empat pekan telah berlalu. Istriku akhirnya melahirkan dengan selamat. Seorang bayi lelaki menjadi matahari kami.  Matahati kami yang baru.

Namun, sebulan setelah kelahiran itu, terjadi keganjilan. Kepala anakku semakin hari semakin membesar. Beda dengan bayi-bayi lainnya. Aku resah dan istriku sangat gelisah. Menurut dokter, anakku mengidap tumor ganas di kepalanya. Penyembuhan hanya bisa melalui operasi, tutur sang dokter. Biaya operasinya bisa sampai puluhan juta.

Kami langsung lemas mendengar besarnya biaya yang harus kami tanggung. Dari mana kami harus memperoleh uang sebesar itu? Aku jadi teringat makian rekan ojekku dulu. Ah, aku berusaha membuang jauh pikiran buruk itu.

Enam bulan berselang, kepala anakku kian membesar. Aku kasihan sekali melihat penderitaannya. Untuk tidur pun ia mengalami kesulitan. Makan pun ia harus menggunakan selang.

Entah dari mana datangnya, suatu hari beberapa kru dari sebuah televisi swasta memberikan bantuan biaya operasi anak kami. ‘’Ini dari para pemirsa yang peduli,’’ tutur salah seorang kru.

Dua pekan kemudian, operasi dilangsungkan di sebuah rumah sakit terkenal di pusat kota. Betapa bahagianya kami. Harapan untuk memiliki Matahari sedikit terkuak.

Namun kebahagiaan dan harapan itu hanya sesaat, bahkan sekejab. Tuhan menghendaki lain. Operasi itu gagal! Anak kami satu satunya, yang sangat kami impikan sejak lama, meninggal. Aku berteriak histeris. Istriku menangis sejadi jadinya.

***

Di pemakaman umum di sudut Ibukota, kami menguburkan Matahari. Sembari menabur bunga di pusaranya, istriku bergumam lirih, ‘’Setelah kehidupan ini, masihkah kita bersama lagi, Matahari, menyinari bumi, menerangi hari hari yang sepi, entah akan dibawa ke mana lagi, jiwa ini, Matahari…’’

Rintik rintik air hujan tiba tiba hadir pagi itu membasahi tanah kuburan. Di antara gerimis, kami menangis, menyertai anak pertama dan terakhir kami, yang pergi untuk selama lamanya.

Slipi Jaya, 2001-2004

Tidak ada komentar